Thursday, September 22, 2005

[Translation] Salah, Hilang, & Berubah

YANG SALAH, YANG HILANG, DAN YANG BERUBAH

Oleh Mugijatna
Dosen Sasing UNS

Abstrak

Penerjemahan adalah penerjemahan pesan, oleh karena itu yang menjadi fokus dalam penerjemahan adalah terterjemahkannya pesan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Masalahnya adalah apabila yang menjadi obyek penerjemahan adalah puisi. Dalam puisi, bentuk kadang-kadang menjadi satu dengan pesan; ada puisi yang tipografi penulisannya menyerupai benda yang menjadi obyeknya. Dalam hal ini, seperti yang dikatakan Marshall Mc Luhan, “the media is the massage”. Di samping itu, penggunaan bahasa dalam puisi pada dasarnya memang berbeda dengan penggunaan bahasa dalam prosa, apalagi dalam bahasa percakapan sehari-hari. Paling tidak puisi memiliki konvensi sendiri yang berbeda dengan konvensi penulisan prosa.

Dari itu semua, dapat diduga bahwa pasti ada yang hilang, atau berubah, atau bahkan mungkin salah, dalam penerjemahan puisi dari satu bahasa ke bahasa lain. Dalam tulisan ini penulis mencoba melacak yang salah, yang hilang atau yang berubah tersebut dalam penerjemahan beberapa puisi Indonesia yang dimuat dalam majalah Horison Edisi Khusus: Puisi Internasional Indonesia 2002 ke dalam bahasa Inggris. Dalam majalah ini ada 90 puisi Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggirs. Penulis memilih tiga puisi sebagai bahan analisis, yakni “Sajak Atas Nama”, karya A. Mustofa Bisri, “Selain Laut”, puisi Abdul hadi W. M, dan “Tanah Airmata”, karya Sutardji Calzoum Bachri

Dari analisis terhadap penerjemahan tiga puisi tersebut ke dalam bahasa Inggris dapat disimpulkan bahwa memang ada yang salah, yang hilang, dan yang berubah. Kesalahan terjadi karena kekurangcermatan penerjemah, sebagaimana penerjemahan kata “bintang laut” dan kata “ketam” dalam puisi “Selain Laut” menjadi “stars” dan “crab”. Kehilangan dan perubahan terjadi karena memang ada perbedaan faktor lingual antara bahasa Indonesia dengn bahasa Inggris. Seperti yang ditunjukkan dalam analis penerjemahan puisi “Sajak Atas Nama”, kata “ada” yang berfungsi sebagai subjek dalam bahasa Indonesia tak senantiasa dapat diterjemahkan menjadi “there is/are”. Di samping itu, ada hal-hal yang memang tak dapat diterjemahkan. Permainan kata “air” dan kata “mata” yang membentuk kata “airmata” dan “mata air”, seperti yang ditunjukkan dalam analisis terhadap puisi Sutardji Calzoum Bachri, jelas tak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

A. Pendahuluan

Dalam The Theory and Practice of Translation Nida dan Taber (1969: 3) mengatakan bahwa fokus baru dalam penerjemahan bukan lagi pada gaya melainkan makna. Kini fokus penerjemahan telah bergeser dari bentuk ke tanggapan penerima terhadap pesan yang diterjemahkan. Larson (1984) mengemukakan bahwa penerjemahan adalah mengalihkan pesan dalam bentuk bahasa sumber ke dalam bentuk bahasa sasaran. Penerjemahan yang baik, kartanya adalah penerjemahan idiomatik.

Pernyataan-pernyataan tersebut benar adanya, bahwa penerjemahan adalah penerjemahan pesan, oleh karena itu yang menjadi fokus dalam penerjemahan adalah terterjemahkannya pesan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Masalahnya adalah apabila yang menjadi obyek penerjemahan adalah puisi. Dalam puisi, bentuk kadang-kadang menjadi satu dengan pesan; ada puisi yang tipografi penulisannya menyerupai benda yang menjadi obyeknya. Dalam hal ini, seperti yang dikatakan Marshall Mc Luhan, “the media is the massage”. Paling tidak, penyair sering memanfaatkan aspek metalingual untuk menyampaikan pesannya. Sutarji Calzoum Bachri, misalnya, dalam sebuah puisinya mempermainkan kata Tuhan yang apabila urutan suku katanya dibalik menjadi Hantu sehingga Tuhan berubah menjadi Hantu.

Di samping itu, penggunaan bahasa dalam puisi pada dasarnya memang berbeda dengan penggunaan bahasa dalam prosa, apalagi dalam bahasa percakapan sehari-hari; “the language of poetry is the language of paradox”, kata Cleanth Brooks (dalam Culler, 1975: 162). Paling tidak puisi memiliki konvensi sendiri yang berbeda dengan konvensi penulisan prosa. Sepotong berita sehari-hari dalam koran apabila ditulis dalam bentuk puisi akan menimbulkan “expecation" yang berbeda pada pembaca, sebagaimana yang dicontohkan oleh Culler (1975: 1961-1963 ). Kebalikannya, sebuah puisi yang bagus apabila ditulis dengan menggunakan konvensi penulisan prosa, atau dibaca dengan pembacaan secara main-main dan serampangan, akan kehilangan efek puitisnya.

Sebuah bahasa adalah sebuah system yang unik, yang berbeda dengan system bahasa yang lain. Dalam bahasa Inggris terdapat lebih banyak kata-kata untuk salju dari pada dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Arab terdapat 500 kata untuk kuda, lebih dari bahasa apa pun. Struktur frasa nominal dalam bahasa Inggris dengan post-modifier berupa frasa preposisi dapat diterjemahakan dari “head” ke “post-modifier” dulu baru ke “pre-modifier” atau sebaliknya. “Vowel” dalam bahasa Jawa Kromo kebanyakan adalah “vowel” rendah, ketika mengucapannya mulut tidak terbuka lebar; artinya ada kongruensi antara kehalusan makna dengan kehalusan cara pengucapan.

Dari itu semua, dapat diduga bahwa pasti ada yang hilang, atau berubah, atau bahkan mungkin salah, dalam penerjemahan puisi dari satu bahasa ke bahasa lain. Dalam tulisan ini penulis mencoba melacak yang salah, yang hilang atau yang berubah tersebut dalam penerjemahan beberapa puisi Indonesia yang dimuat dalam majalah Horison Edisi Khusus: Puisi Internasional Indonesia 2002 ke dalam bahasa Inggris.

Kalau saya tidak salah hitung, dalam majalah tersebut ada 90 puisi Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Karena keterbatasan waktu, dalam makalah ini penulis hanya dapat menyajikan tiga puisi saja. Jumlah ini jelas tidak cukup dan jelas hanya dapat menyingkap sedikit masalah saja, namun mudah-mudahan dapat menjadi bahan diskusi yang menarik.


B. Analisis

Sajak Atas Nama

Ada yang atasnama Tuhan melecehkan Tuhan
Ada yang atasnama negara merampok negara
Ada yang atasnama rakyat menindas rakyat
Ada yang atasnama kemanusiaan memangsa manusia
Ada yang atasnama keadilan meruntuhkan keadilan
Ada yang atasnama persatuan merusak persatuan
Ada yang atasnama perdamaian mengusik kedamaian
Ada yang atasnama kemerdekaan memasung kemerdekaan
Maka atasnama apa saja atau siapa saja
kirimlah laknat kalian
Atau atasnamaKu perangilah mereka
dengan kasihsayang!


Oleh: A. Musthofa Bisri


A Poem of in The Name of

Some people despise God, in the name of God
Some people rob a country, in the name of the country
Some people suppres other people, in the name of the people
Some people prey on humans, in the name of humanity
Some people demolish justice, in the name of justice
Some people destroy a unity, in the name of unity
Some people disturb peace, in the name of peace
Some people restrain freedom, in the name of freedom
So, in the name of whoever or whatever
Send your curses
Or by My name, antagonize them,
With compassions!


Translated by Nikmah Sarjana


Tidak sulit memahami puisi tersebut, baik versi Indonesianya mau pun terjemahan Inggrisnya, sebagaimana kata penyairnya sendiri ketika membacakan puisi tersebut (yang sudah direvisi) 26 Agustus yang lalu di TBS. Oleh karenanya, tak sulit melihat perbedaan yang terdapat pada terjemahan puisi tersebut dari aslinya.

Yang pertama, penerjemahan ada yang menjadi some people tampaknya merupakan pilihan yang sulit dielakkan karena sulit menerjemahkan ada yang ke dalam bahasa Inggris. Penerjemahan ada yang menjadi there is one (some people) who boleh jadi akan terasa keindonesian. Akan tetapi, apabila diterjemahkan kembali ke bahasa Indonesia, some people akan menjadi sebagian orang, atau beberapa orang, atau sementera orang. Artinya, penerjemahan ada yang menjadi some people tidak sepenuhnya dapat mengalihkan nuansa yang terkandung dalam ungkapan ada yang; ada sesuatu yang hilang di sini.

Yang kedua, penempatan frasa in the name of … dibelakang tampak tidak mengurangi makna. Sesungguhnya pembalikan uratan frasa preposisi dengan frasa verba yang berfungsi sebagai predikat tersebut merusak tekanan. Penempatan frasa atasnama Tuhan, atasnama negara, atasnama rakyat, dst. di depan frasa verba memberikan tekanan lebih pada makna penggunaan Tuhan, negara, rakayat, dst. hanya sebagai kedok. Tekanan pada makna ini menjadi berkurang ketika urutan tersebut dibalik, padahal, menjaga urutan penempatan frasa preposisi dengan frasa verba tersebut sebagaimana adanya dalam bahasa Indonesianya tidak mengurangi kewajarannya.

Tampak penerjemahan Sajak Atas Nama ke dalam bahasa Inggris oleh Nikmah Sarjana tersebut hanya semata-mata bertumpu pada makna lingualnya saja, aspek metalingualnya diabaikan.


Selain Laut

Suatu sore aku duduk
mengenang kisah itu kembali, antara kita:
sebuah laut dan juga rerontok tiram.
Mereka semua berdiri dan memanggilku:
cahaya kabur, ombak gaduh yang tak pernah diam
dan bintang luat yang jari-jarinya lunglai –
mereka semua memanggilku dan menjerit-jerit
hingga aku tak mengenalnya kembali.
Apakah masalalu itu? Ke mana sulur-sulurnya
merambat dan hari-harinya yang keemasan disimpan?
Mengapa hanya kekecewaan dan kesedihan-kesedihannya yang sering datang?
Seperti potret kusam kenangan hitam
atau keinginan yang sekonyong-konyong padam
Kubuka ruang itu. Tak seorang pun di sana
kecuali derak pintu yang menua dan kosong
serta bumi dan waktu dengan kelaparan yang menghantu
semuanya mendekat ke arahku
Tapi sebuah tangan
tiba-tiba datang dan menarikku
sekuntum duri yang merkah menebarkan kisah-kisahnya
seperti untaian kesia-siaan dan kehancuran yang kembali
seperti sederet kamar tanpa jendela dan kunci
dari mana kita berangkat dan akan berangkat
Seperti teka-teki, namun akrab sekali
di mana bertemu yang hidup maupun yang mati
Atau marilah kita ingat ini, kita kenang:
cinta yang tak dapat kita uraikan dengan nafsu dan kata
pun tanpa nama. Kegagalan dan pejalanan pedih tiap sejarah
serta bersimbah darah. Dan sahabat-sahabat serta
yang akan berkumpul menangisi kita
pada hari kematian, dalam hati
lalu kabur dan menghilang dalam kegelapan
meninggalkan jejak-jejak yang membingungkan
Semua ini cukup mengharukan
Atau kalau kita ketam
buah pohon kita yang lebat dan sekaligus kerontang
Akan terasalah perjalanan kita yang tersaruk-saruk namun menyenangkan
di mana kecemasan tetap tinggal sebagai kecemasan
kebebasan sebagai kebebasan dan siksaan sebagai siksaan
Selain laut yang luas sebagaimana tiap-tiap kesepian


Oleh Abdul Hadi W.M.

Puisi tersebut diterjemahkan oleh Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1981, sebagai berikut.

Only the Sea

One afternoon I sat
remembering a story, our story:
the sea, and rocks covered with oyster shells.
Everything stood and called me:
the fading light, the endless noisy waves,
and the long fingered stars over the sea –
calling and shouting
until I was totally confused.
What is the past? Where do its tendrils
hide? Where have the golden days gone?
Why is it that only sorrow and grief remain?
Like a dull portrait of old memories
and failed desire.
I looked into the hall. It was empty,
except for old doors – and the echoes.
The earth, time, and, a terrible hunger
crowded in on me.
A hand suddenly appeared and grabbed me.
Large sharp torns offered stories
of futility, linked with recurrent
pain, like a row of locked rooms
from which we depart, and to which
we always return.
Like riddles, yet somehow familiar,
containing life, and death.
Or perhaps we can both recall
a love beyond, beyond words,
unnamed. Failure and the old bitter journey
covered in blood. Our faithful friends
gathered to moun
our death. The heart forgets,
images disappear in the dark,
sometimes surprising us.
It is amazing
Perhaps we are crabs,
Or ripe, decaying fruit.
Perhaps we are on a rough,
but pleasant, path,
in which fear is always fear,
freedom is always freedom, and cruelty
is always cruelty. The sea is as vast
as our isolation.


Translated by Harry Aveling

Membandingkan terjemahan puisi tersebut dengan aslinya, sekilas dapat dilihat beberapa kata atau frasa yang tidak sesuai dengan aslinya dan ada beberapa perubahan tataran.

Pada bait pertama frasa rerontok tiram (br. 3) diterjemahkan rocks covered with oyster shells. Pada baris 6, frasa bintang laut yang jari-jarinya lunglai diterjemahkan the long fingered stars over the sea. Penerjemahan rerontok tiram menjadi rocks covered with oyster shells jelas tidak tepat. Inti dari rerontok tiram adalah tiram, rerontok menjelaskan tiram; sementara inti dari rocks covered with oyster shells adalah rocks, oyster shells hanya berfungsi sebagai penjelas saja. Penerjemahan bintang laut yang jari-jarinya lunglai menjadi the long fingered stars over the sea lebih tidak tepat lagi. Bintang laut adalah satu jenis binatang laut yang bentuknya seperti gambar bintang. Dalam bahasa Inggris bintang laut berarti starfish. Stars dalam the long fingered stars over the sea adalah bintang; frasa over the sea menjelaskan bahwa stars tersebut adalah bintang di langit yang berada di atas laut. Frasa the long fingered menjadikan stars dalam baris tersebut bermakna metaforis, sementara bintang laut dalam bintang laut yang jari-jarinya lunglai merujuk ke bintang laut sungguhan.

Pada bait ke dua baris 2 kata disimpan diterjemahkan menjadi gone dan kata sekonyong-konyong pada baris terakhir hilang.

Pada bait ketiga, baris 1 dan 2 Kubuka ruang itu. Tak seorang pun di sana/ kecuali derak pintu yang menua dan gema kosong, diterjemahkan menjadi, I looked into the hall. It was empty,/ except for old doors – and the echoes. Penerjemahan baris-baris tersebut tidak banyak mengubah makna, penerjemahan kata kubuka menjadi I looked into, dan penghilangan kata derak pada baris berikutnya, juga penghilangan kata kosong, yang menghilangkan nuasa kehampaan dalam baris-baris tersebut, memperoleh kompensasi dari kata empty, kosong. Akan tetapi, mengapa baris-baris tersebut tidak diterjemahkan secara literal saja, mengapa Kubuk ruang itu diterjemahkan menjadi I looked into the hall, bukan I opened the doors?

Pada bait keempat, baris pertama dan kedua, Tapi sebuah tangan/ tiba-tiba datang dan menarikku, digandeng jadi satu, A hand suddenly appeared and grabbed me. Pada baris berikutnya, frasa yang merkah tidak diterjemahkan, sedangkan kata menebarkan yang artinya dalam bahasa Inggris adalah spreaded around atau to scattered about diterjemahkan menjadi offered yang kalau diterjemhkan balik ke dalam bahasa Indonesia berarti menawarkan. Baris-baris berikutnya, seperti untaian kesia-siaan dan kehancuran yang kembali/ seperti sederet kamar tanpa jendela dan kunci/ dari mana kita berangkat dan akan berangkat, diterjemahkan menjadi, of futility, linked with recurrent/ pain, like a row of locked rooms/ from which we depart, and to which/ we always return. Tampak pada terjemahan tersebut ada pergeseran tataran dari kalimat menjadi frasa, ada makna yang hilang, bahkan dua kata terakhir, akan berakangkat, diterjemahkan ke arti kebalikannya, always return. Jumlah baris bait tersebut sama-sama enam, tetapi pada terjemahannya di samping ada penggabungan dua baris menjadi satu, yaitu baris pertama dan kedua, ada baris yang dipotong jadi dua, yakni baris terakhir.

Dalam bait keenam juga terjadi perubahan yang mengubah makna. Paroh kedua baris ke 5, Dan sahabat-sahabat setia/ yang akan berkumpul menangisi kita/ pada hari kematian, dalam hati/ lalu kabur dan menghilang dalam kegelapan/ meninggalkan jejak-jejak yang membingungkan/ Semua itu cukup mengharukan, diterjemahkan menjadi, Our faithful friends/ gathered to mourn/ our death./ The heart forgets, images disappear in the dark,/ sometimes surprising us./ It is amazing. Frasa dalam hati yang menerangkan kata menangisi kita sehingga kalau digandeng menjadi menangisi kita dalam hati diterjemahkan menjadi The heart forget dan tampak bukan merupakan penjelasan dari to mourn our death. Terjadi perubahan arti di sini. Apalagi baris berikutnya, lalu kabur dan menghilang dalam kegelapan yang diterjemahkan menjadi images disappear in the dark, frasa lalu kabur tidak diterjemahkan. Dalam basa sumbernya, baris-baris tersebut berarti bahwa sahabat-sahabat setia yang berkumpul pada hari kematian menangsi (tetapi hanya) dalam hati, lalu (setelah itu) kabur dan menghilang dalam kegelapan. Pesan dalam bahasa sasarnnya sama sekali berbeda dengan pesan dalam bahasa sumber tersebut.

Pada bait keenam, bait terakhir, juga terjadi perubahan yang sama sekali berbeda dengan bahasa sumbernya. Baris pertama dan kedua bait tersebut, Atau kalau kita ketam/ buah pohon kita yang lebat dan sekaligus kerontang, diterjemahkan menjadi, Perhaps we are crabs./ Or ripe, decaying fruit. Dalam bahasa Indonesia kata “ketam” dapat berarti “memanen” dapat berarti “sejenis kepiting”, dapat pula berarti salah satu jenis alat yang digunanakan oleh tukang kayu. Ketam dalam baris tersebut jelas berarti memanen karena baris terus berlanjut ke baris berikutnya “buah pohon kita …”. Kesalahan penerjemahan kata ketam ini menjadikan salah pula penerjemahan baris berikutnya. Or ripe, decaying fruit bukan penerjemahan yang benar terhadap buah pohon kita yang lebat dan sekaligus kerontang.

Dari uraian tersebut tampak bahwa kesalahan-kesalahan dalam penerjamahan Selain Laut menjadi Only The Sea oleh Harry Aveling tersebut terjadi karena penerjemahnya salah memilih padanan kata yang tepat.

Tanah Arimata

tanah airmata tanah tumpah dukaku
mata air airmata kami
airmata tanah air kami


Oleh Sutardji Calzoum Bachri


Wellspring of Tears
wellspring of my tears, wellspring of sorrow
wellspring of our tears well
spring of our land


Translated by John H. McGlynn

Puisi tersebut terdiri atas 26 baris terbagi ke dalam 6 bait. Akan tetapi karena hanya bait pertama saja yang akan dibahas di sini, hanya bait pertama itu saja yang dikutip.

Bait tersebut jelas dapat dilihat berisi permainan kata “air” dan kata “mata” yang dapat membentuk kata “air mata” dan kata “mata air”. Kedua kata ini, meskipun sama-sama dibentuk oleh kata “air” dan kata “mata”, memiliki arti dan konotasi yang bertolak belakang. “Airmata”, tears, mengandung konotasi kesedihan, meskipun airmata bisa keluar karena kebahagiaan, sedangkan “mata air”, wellspring, mengandung konotasi kebahagiaan, karen “mata air’ adalah sumber air yang merupakan sumber kehidupan.

Dalam puisi tersebut Sutardji mempermainkan dua kata tersebut sehingga muncullah asosisai yang sama antara mata air dengan air mata, mata air airmata kami airmata tanah air kami. Tampak dalam dua baris tersebut bahwa mata air, yakni mata air dari air mata, adalah airmata, yakni airmata tanah air kami. Akhirnya, dalam baris airmata tanah air kami, kata “tanah air” pun juga tercakup dalam permaian antara kata “air” dan kata “mata” tersebut.

Pesan bahwa mata air dari airmata adalah airmata dari tanah air kami tidak sulit untuk dialihkan ke dalam bahasa Inggris, namun efek yang ditimbulkan oleh permainan kata “mata” dan kata “air” tersebut pasti hilang, karena kata tears dan kata wellspring tidak memiliki suku kata yang bisa saling ditukarkan. Hal ini dapat dilihat dalam terjemahan bait tersebut oleh John H. McGlynn.

Tampaknya McGlynn berusaha menutupi kekurangan ini dengan menerjemahakan kata “tanah” dengan “wellspring” sehingga terjadi pengulangan berkali-kali kata “wellspring”.Baris pertama, tanah airmata, tanah tumpah dukaku, yang dapat diterjemahkan secara literal menjadi, the land of teras, the land of my sorrow diterjemahkan menjadi wellspring of my tears, wellspring of sorrow. Begitu juga kata “airmata” pada baris terakhir, airmata tanah air kami, yang dapat diterjemahkan secra literal menjadi “tears of our land”, diterjemahkan menjadi wellspring of our land. Dilihat dari artinya, penerjemahan kata “tears” pada baris terakhir ini menjadi “wellspring” tidak salah, karena apabila dibaca mulai dari baris kedua menyambung ke baris ke tiga, mata air airmata kami airmata tanah air kami, kata “airmata” pada baris kedua memang merujuk ke kata “mata air”.

Meskipun dapat menimbulkan pengulangan yang bagus, penerjemahan kata “tanah” dan “airmata” menjadi wellspring itu telah menghilangkan asosiasi bolak-balik antara airmata dengan mata air, antara mata air dengan air mata, asosiasi yang tampaknya menjadi tujuan dari permainan kata “air” dan kata “mata” itu.

C. Kesimpulan

Dari analisis terhadap penerjemahan tiga puisi tersebut ke dalam bahasa Inggris dapat disimpulkan bahwa memang ada yang salah, yang hilang, dan yang berubah.

Kesalahan terjadi ternyata bukan karena perbedaan faktor lingual atau metalingual, melainkan karena kekurangcermatan penerjemah, sebagaimana penerjemahan kata “bintang laut” dan kata “ketam” dalam puisi “Selain Laut” menjadi “stars” dan “crab”.

Kehilangan dan perubahan terjadi karena memang ada perbedaan faktor lingual antara bahasa Indonesia dengn bahasa Inggris. Seperti yang ditunjukkan dalam analis penerjemahan puisi “Sajak Atas Nama”, kata “ada” yang berfungsi sebagai subjek dalam bahasa Indonesia tak senantiasa dapat diterjemahkan menjadi “there is/are”

Di samping itu, kehilangan dan perubahan juga terjadi karena adanya faktor non-lingual yang memang tak dapat diterjemahkan. Permainan kata “air” dan kata “mata” yang membentuk kata “airmata” dan “mata air”, seperti yang ditunjukkan dalam analisis terhadap puisi Sutardji Calzoum Bachri, jelas tak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Daftar Pustaka
Culler, J. 1975. Structualist Poetics. London: Routledge & Kegan Paul Ltd.

Horison Edisi Khusus: Puisi International 2002, Tahun XXXV, No. 4/2002, April 2002.

Kridalaksana, H. 1982. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia.

Larson, M. L. 1984. Meaning Based Translation. USA: University Press of America

Newmark, P. 1981. Approaches to Teranslation. London: Pergamon Press.

Nida, E. A. and C. R. Taber. 1969. The Theory and Practive of Translation.Leiden: E. J. Brill.

No comments: