Ada percobaan menstimulasi otak sejak janin, bernama the Edith Experiment (Percobaan Edith). Tahun 1952, Aaron Stern, wartawan New York Times memutuskan memberi lingkungan belajar semendukung mungkin kepada Edith, anak perempuannya. Dia ingin menstimulasi dan menantang sepenuhnya otak Edith yang masih muda. Bahkan ketika Edith masih berupa janin berusia lima bulan di rahim, Aaron telah memiankan musik klasik dan membaca buku untuk anak perempuannya (sebuah kajian menegaskan bahwa bayi mulai belajar bahasa sejak di rahim). Segera setelah Edith lahir, Aaron mulai bicara ke Edith yang masih bayi dengan kalimat orang dewasa yang lengkap. Setiap hari, Aaron juga menunjukkan kepada si jabang bayi, berbagai kartu flash yang memuat gambar, angka, dan kata. Hasilnya? Di usia satu tahun, Edith telah mampu bicara dalam kalimat lengkap. Di usia 5 tahun, dia telah selesai membaca seluruh volume Ensiklopedia Britannika. Di usia 6 tahun, Edith mampu membaca enam buku dalam sehari dan harian New York Times. Di usia 12 tahun, dia masuk universitas dan di usia 15, dia mengajar Matematika di Michigan State University.
Mungkinkan mentsimulasi sastra sejak janin?
Blog bagi Alumni, calon Alumni, Dosen pencetak alumni Sastra Inggris, UNS, Solo.
Website: http://sasing.site40.net
Mailing list: alumni_sastra_inggris_uns@yahoogroups.com
Wednesday, December 02, 2009
Tuesday, December 01, 2009
Editor Pakistan Raih Pena Emas

Hyderabad, Kompas - Pemimpin Redaksi Friday Times dan Daily Times Pakistan Najaam Sethi meraih penghargaan Pena Emas 2009. Anugerah bagi wartawan yang memperjuangkan kemerdekaan pers itu diberikan Presiden Forum Editor Dunia Xavier Vidal-Folch dalam pembukaan Kongres Asosiasi Surat Kabar Dunia di Hyderabad, India, Selasa (1/12). Budiman Tanuredjo dan Abun Sanda
Penghargaan diberikan di depan Presiden India Pratibha Devi Singh Patil yang sekaligus membuka kongres tersebut.
Pada tahun 2008, anugerah Pena Emas diberikan kepada wartawan dari China, Li Changqing, yang juga dipenjarakan oleh Pemerintah China
Bagi Najaam, penghargaan Pena Emas 2009 sebagai simbol diteruskannya perjuangan untuk meningkatkan demokrasi dan kebebasan pers.
”Berbeda dengan perjuangan pers masa silam yaitu untuk melawan kemiskinan, kini pers dihadapkan pada penegakan kemerdekaan pers untuk menghindari campur tangan pemerintah dan menghindari cara ekstrem untuk menekan media,” kata Najaam, yang beberapa kali mendapat ancaman pembunuhan dari kelompok Taliban, yang menudingnya sebagai agenda Barat, serta ancaman dari pasukan keamanan Pakistan.
Najaam mengaku sangat sulit memperjuangkan kemerdekaan pers di Pakistan yang ancamannya dari aktor negara ataupun aktor nonnegara, tapi dari sisi lain secara bisnis harus menguntungkan.
Bagi Xavier, apa pun kesulitan di lapangan, pers dunia tak boleh berkompromi dengan penguasa dalam hal keadilan dan kebebasan. ”Solidaritas dunia diperlukan untuk menjaga kemerdekaan pers,” tambah Presiden Forum Editor Dunia tersebut.
88 wartawan tewas
Sepanjang tahun 2009, sedikitnya tercatat 88 wartawan tewas dan ratusan pekerja media ditahan. Sebagian penahanan mereka dilakukan tanpa melalui proses pengadilan yang benar.
Demikian pernyataan pers Asosiasi Surat Kabar Dunia (WAN) dan Forum Editor Dunia (WEF) dalam pertemuan mereka di Hyderabad, India, Senin malam. Kedua organisasi itu juga mengecam aksi pembunuhan keji terhadap 30 pekerja media di Filipina selatan, 23 November lalu.
Menurut catatan WAN, lebih dari 750 wartawan terbunuh di seluruh dunia dalam satu dekade terakhir ini. Pertemuan pengurus WAN dan WEF dilangsungkan sebelum acara pembukaan Kongres Asosiasi Surat Kabar Dunia.
WAN dalam laporan tahunannya juga mencatat bahwa kemerdekaan pers tetap dipandang sebagai sebuah ancaman di sejumlah negara. Di negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara, wartawan yang memperjuangkan kemerdekaan pers masih dijadikan target oleh pemerintah yang berkuasa.
Di Afrika sering didapati pemerintah menuntut secara hukum wartawan yang mempersoalkan korupsi di tubuh pemerintah dengan tuduhan pencemaran nama baik.
Subscribe to:
Posts (Atom)